Sebenarnya, kebijakan pengurangan jam tayang itu bukanlah sesuatu yang terlalu mengejutkan. Sebab kalau saja para pengelola stasiun televisi swasta mau jujur, memang belum semua stasiun memiliki kelayakan untuk melakukan siaran tanpa jeda sekitar 20 jam setiap hari, sebagaimana dilakukan selama ini. Dengan demikian, pemangkasan jam tayang di tengah gejolak perekonomian ini diharapkan sekaligus menyadarkan para pengelola stasiun televisi swasta untuk mengukur kembali kemampuannya masing-masing.
Ketaklayakan stasiun melakukan siaran hampir sehari-semalam tiap hari seperti selama ini, dengan gampang dapat kita tebak dari pola penyiaran yang belum memaksimalkan kualitas. Kita bisa menghitung berapa paket dari tontonan yang selama ini disajikan kepada pemirsa, adalah paket-paket tayangan ulang yang disiasati dengan pemindahan waktu penayangan. Misalnya sinetron favorit yang semula mengisi slot jam tayang utama, kemudian dialihkan pada jadwal siang hari atau larut malam.
Memang, kebijakan tersebut tentu akan mengundang dua kutub pendapat: setuju dan tak setuju. Para pemirsa yang selama ini kadung keranjingan menonton telenovela atau film-film India, wajar kalau kecewa. Sebab pemangkasan jam tayangan itu oleh masing-masing stasiun umumnya dilakukan dengan meniadakan siaran antara pukul 07.00-15.00. Sedangkan di antara jam-jam tersebut justru selama ini tayangan telenovela dan film India biasa menghibur para pemirsa.
Namun di sisi lain, pengurangan jam tayang itu sebenarnya mengandung hikmah terselubung. Kebijakan tersebut memberi peluang kepada para pengelola stasiun televisi untuk melakukan interospeksi atas kemampuan masing-masing. Juga bisa sejenak menyadarkan pemirsa yang selama ini telanjur memubazirkan waktu produktif dengan hanya menongkrongi layar kaca. Sekaligus pula mendukung dilaksanakannya gerakan hemat energi, meski kontribusinya cuma dengan pengurangan pemakaian aliran listrik sekitar lima jam setiap hari.
Dengan pengurangan jam tayang, tiap stasiun justru jadi memiliki peluang meningkatkan kualitas tayangan dengan melakukan seleksi lebih ketat ketimbang yang berlangsung selama ini. Juga tak harus repot-repot mengganjal slot yang kosong dengan paket acara produk daur ulang atau tayangan-tayangan yang kurang layak tonton.
Sisi positif lainnya, pengurangan jam tayang yang antara lain dipicu mahalnya produk-produk tayangan dari mancanegara, juga akan menyadarkan para pengelola stasiun untuk mempercepat memenuhi kuota tayangan dengan memprioritaskan acara-acara buatan lokal. Tentu saja disertai harapan agar para pemilik rumah produksi dalam negeri pun jadi terpacu untuk hanya menghasilkan produk berkualitas karena terbatasnya waktu tayang yang tersedia.
Aspek lainnya, pengurangan jam tayang juga bisa dijadikan bahan evaluasi oleh masing-masing pengelola siaran untuk memformat ulang pola tayangannya. Sebab sebenarnya, sudah waktunya tiap stasiun berani memulai spesialisasi pada bidang-bidang tertentu, entah musik, olahraga, film, pendidikan, dll. Sehingga segmentasi pemirsanya pun akan secara alamiah terhimpun. Dengan demikian, pemeringkatan sistem rating nya juga tak disangsikan objektivitasnya. Tak seperti selama ini yang dicurigai karena kongkalikong antara pihak rumah produksi dan penyelenggara survei.
zainal muttaqien
Lampung Post
05 Februari 1999
00:01