8 Juli 2010

Ketua Baru

Posted by
GONJANG-GANJING ritme politik di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung --sementara-- berakhir dengan terpilihnya Abbas Hadisunyoto menggantikan Ketua DPRD Lampung sebelumnya, Srie Atidah.


Dikabarkan sidang paripurna proses pergantian antar waktu ketua wakil rakyat berlangsung aman. Setidaknya tidak sampai diwarnai aksi-aksi pengerahan massa yang menjurus chaos sebagaimana dikhawatirkan semula. Justru sebaliknya, kabarnya pula, keributan malah berlangsung di ruang sidang, meski hanya sebatas perang interupsi.

Buat rakyat, khususnya di Lampung, mungkin sekali tidak terlalu peduli dengan proses pemilihan ketua baru itu. Apatisme itu bisa karena sudah tak begitu percaya pada sebuah proses pemilihan entah ketua ini atau ketua itu, yang senantiasa tak pernah sepi dari isu-isu persekongkolan, money politic, teror, lobi, dan berbagai taktik yang seringkali malah ke luar dari esensi obyektif makna pemilihan yang demokratis.

Ketidakpedulian kebanyakan warga masyarakat bisa jadi pula dilatari suatu sikap yang nyaris kehilangan kepercayaan kepada para pemimpin, khususnya para wakil rakyat, yang sejauh ini belum benar-benar menunjukkan kesungguhan mengamalkan amanah yang dipercayakan rakyat. Selama ini rakyat baru melihat posisi sebagai wakil rakyat hanya dijadikan sebagai lahan perebutan: berebut pengaruh, berebut posisi, berebut materi, yang lebih banyak berorientasi kepada kepentingan individual atau paling banter partai tempat para wakil rakyat bernanung.

Apatisme rakyat bisa juga dipengaruhi oleh makin pudarnya harapan karena selama ini banyak aspirasi yang disampaikan, entah melalui tekanan pengerahan massa atau sekadar pernyataan sikap, yang tak pernah membuahkan hasil sebagaimana diharapkan. Begitu banyak persoalan, kasus, tuntutan yang kerap diungkapkan berbagai kelompok masyarakat yang akhirnya hanya menjadi catatan sejarah telah berlangsungnya proses demokrasi, meski nilainya lebih banyak sebatas euforia.

Lantas, apa perlunya pergantian ketua baru wakil rakyat? Justru di sinilah ketua baru DPRD Lampung yang baru saja terpilih, diharapkan bisa bercermin dari perjalanan kiprak mewakili rakyat sebelumnya, sehingga bisa memulihkan kembali kepercayaan rakyat dan harapan masyarakat. Sehingga keberadaannya sebagai ketua dari para wakil rakyat benar-benar dirasakan rakyat sebagai muara tempat menyalurkan aspirasi dan mewujudkan harapan yang selama ini kandas ditelikung kongkalikong yang kerap diselimuti dengan istilah 'kompromi'.

Bila langkah pengembalian jatidiri wakil rakyat sebagai pengemban amanah rakyat yang ditempuh, masih tersisa harapan untuk pengembalian kepercayaan dan harapan yang semakin pudar itu. Namun sebaliknya, bila keberadaan para wakil rakyat dan cara kepemimpinan ketua baru DPRD Lampung kelak hanya sekadar meneruskan 'tradisi' sebagaimana dilakukan selama ini, yang terjadi bisa saja bukan hanya semakin hilangnya kepercayaan dan harapan kepada lembaga perwakilan rakyat. Lebih dari itu rakyat akan menilai bahwa pergantian ketua DPRD Lampung yang baru berlangsung itu sekadar suatu proses pertarungan politik yang hanya bermuara kepada perebutan posisi dan kekuasaan belaka.

Kini, terpulang kembali kepada ketua DPRD Lampung yang baru bersama seluruh jajarannnya untuk memilih langkah yang hendak ditempuh. Apakah benar-benar hendak memperjuangkan kepentingan rakyat yang selama ini selalu diatasnamakan, atau sekadar mementingkan hasrat individu, kelompok, penguasa, atau pihak-pihak yang minta dilindungi, dalam melakukan kiprahnya.

Apapun yang dipilih akan membuahkan hasil yang setimpal. Selamat berkiprah.

zainal muttaqien
Trans Sumatera
19 Juli 2001