8 Juli 2010

Manuver Gus Dur

Posted by
TOERI ban kempes kembali menyemarakkan suasana menjelang hari H pemilu. Kali ini dilontarkan oleh Ismail Hasan Metareum yang mengomentari manuver KH Abdurrahman Wahid, sebagaimana dikutip media cetak belum lama ini. "Saya kira dia memang ingin menggembosi PPP. Buktinya Gus Dur datang dengan fungsionaris Golkar ke daerah-daerah basis PPP," tegas Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.


Tudingan tokoh yang kerap disapa Buya itu memang bukan tanpa referensi. Malah boleh jadi merupakan kesimpulan setelah sekian lama mengamati langkah-langkah taktis dan politis Gus Dur sejak menggandeng Megawati tempo hari. Dan terutama terpancing oleh pernyataan Gus Dur yang secara diplomatis terucap dalam acara istighotsah kubro di Sidoarjo dan wawancara di Kantor PB NU Jakarta, belum lama ini.

Meski pernyataan Gus Dur dikemas sedemikian rupa agar berporos ke ruh 'Khitah 1926' yang bersikap netral terhadap keberadaan ketiga Organisasi Peserta Pemilu, namun 'udang di balik batu'nya rupanya terendus oleh Buya.

'Perang dingin' NU dengan PPP memang bukan baru sekali ini terjadi. Ia ibarat luka lama yang kini kumat lagi. Kita masih ingat saat Pemilu sebelumnya terjadi 'perseteruan' yang sama dengan ungkapan yang lebih terbuka. Seakan baru terjadi kemarin hiruk pikuk tokoh NU Mahbub Junaidi (alm) yang selama masa kampanye [dengan bantuan media massa] melakukan manuver-manuver politis yang sempat membuat Jhon Naro agak kelabakan.

Kini kisah bermuatan intrik bak telenovela itu terulang kembali. Tentu saja kita jadi prihatin karena ternyata kematangan atau kedewasaan sikap berpolitik yang selama ini kerap didengungkan pemerintah ternyata baru sebatas semboyan teoritis. Dan bukan mustahil bila tradisi perebutan suara lewat teori ban kempes itu terus berlangsung, pada akhirnya calon pemilih semakin bingung.

Benarkah Gus Dur berniat menggembosi PPP? Kalau memang ya, kenapa hal itu sampai terjadi? Untuk menjawab dua pertanyaan itu saja, hingga kini memang tak pernah ada penjelasan yang memuaskan dari pakar manapun. Yang ada cuma analisis teoritis yang formulasinya ragu-ragu. Dan kitapun terpaksa memaklumi, karena kondisi yang memungkinkan baru memberi peluang sebatas keraguan.

Mungkin kita bisa menengok sebentar sejarah saat awal pembentukkan PPP sebagai fusi dari beberapa ormas berkarakter Islam. Kita pun bisa mengurutnya untuk menyaksikan pasang surut kepengurusan dari masing-masing ormas yang tergabung di PPP. Kita pun sama-sama tahu betapa porsi NU yang memiliki massa mayoritas, secara perlahan terkurangi kuotanya.

Belakangan kita pun sama-sama menyaksikan bahwa gonjang-ganjing di partai berlambang bintang itu mulai terjadi saat komposisi pengurusannya mulai tak proporsional berbanding masing-masing massa pendukung ormas yang bersangkutan. Akhirya kitapun tahu NU kemudian bersikap mundur dari kancah politik praktis, dan kembali kepada 'Khitah 1926' yang tak berpihak.

Akhirnya kita memang cuma bisa berharap agar drama politik seperti itu tak terus berlanjut. Dan kalau saja kita mau sejenak bercermin kepada hati nurani, kita tahu apa yang selayaknya dilakukan untuk mengakurkan kembali para tokoh-tokoh yang seharusnya jadi panutan itu. Karena sebenarnya jawaban dari kemelut itu tersimpan di lubuh hati kita semua, termasuk Gus dur dan Buya. Tinggal sejauhmana memiliki niat dan mau merealisasikannya. Atau memang selamanya kita harus jadi penonton yang arif seraya berulangkali mengucap wallahu a'lam bissawab terhadap fenomena yang sebenarnya bisa kita jawab.

zainal muttaqien
Lampung Post
10 April 1988