Kenyataan yang berlangsung di sela-sela euforia reformasi ini memang demikian adanya: asal bisa kenyang saja, mayoritas rakyat sudah bersyukur, tak neko-neko menuntut kualitas gizi. Makanya ketika belum lama ini terungkap data bahwa di negeri yang konon subur makmur ini terdapat sedikitnya empat juta balita yang kekurangan gizi, kita tak serta merta terperanjat.
Dengan menuding krisis perekonomian sebagai kambing hitam, kita cenderung menganggap data semacam itu sebagai semata deretan angka yang paling banter cukup dimaklumi. Padahal, "epidemi" kesejahteraan sosial tersebut pada hakikatnya merupakan bagian dari proses "pemusnahan generasi". Paling tidak dalam determinasi kualitatif keberadaan generasi penerus pada era mendatang, yang notabene menuntut ketersediaan sumberdaya manusia yang kualitasnya lebih baik ketimbang generasi masa kini.
Memang, kita mendengar adanya upaya pemerintah untuk mengatasi bencana sosial tersebut, antara lain melalui program Jaring Pengaman Sosial yang dananya dibantu sejumlah institusi internasional itu. Namun, kita juga kerap mendengar kabar bahwa penyaluran dana-dana bantuan tersebut tak seluruhnya tepat sasaran.
Jumlah dana bantuan yang "dijaring" pihak yang tak berhak menerimanya itu, memang belum diketahui secara pasti. Tetapi, meningkatnya balita penderita busung lapar --jumlahnya pasti lebih besar ketimbang yang diumumkan pemerintah-- merupakan indikasi bahwa dana JPS, khususnya bidang kesehatan, yang disimpangkan mungkin jumlahnya lebih besar daripada jumlah yang sampai kepada sasaran yang semestinya.
Kita berharap, praktek manipulasi yang sama sekali tak manusiawi itu segera dihentikan. Sebab, bila penyimpangan tersebut dibiarkan terus berlangsung, bukan cuma angka penderita kurang gizi, busung lapar, dan mayat korban kelaparan akan makin bertambah, tetapi sekaligus menjadi tabungan bencana yang dampaknya baru terasa beberapa dekade kemudian.
Kasus kurang gizi yang berlangsung saat ini, kelak akan melahirkan generasi yang kualitas kesehatannya buruk dan vitalitas tubuhnya rapuh. Juga akan menyebabkan tumbuhnya generasi "kerdil" yang kecerdasannya tak bakal mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Selain itu, bukan mustahil generasi mendatang bakal memiliki harapan hidup yang relatif menurun, disamping menjadi sasaran empuk bersarangnya berbagai penyakit lantaran tumbuh dalam serba kekurangan: kurang yodium, kurang vitaman, kurang protein, kurang kalori.
Yang kita perlukan sekarang tak cuma pengakuan pemerintah bahwa upaya pemenuhan gizi balita memang belum sempurna. Jauh lebih penting adalah itikad untuk tak melakukan kesalahan serupa, serta secepatnya turun ke berbagai pelosok-pelosok yang diketahui sebagai lumbung anak-anak rawan gizi, sehingga tak sampai terkecoh oleh laporan-laporan para pelaksana penyalur JPS yang kentara masih belum bisa meninggalkan kebiasaan "asal atasan senang".
Kita juga berharap, program JPS yang dibiayai dana triliunan rupiah itu tak menjadi kosmetik politik yang menjadikan rakyat jelata sebagai komoditas. Sebab bila hal itu terjadi dalam realisasi program pemenuhan gizi, maka slogan "empat sehat lima sempurna" hanya akan membuahkan hasil: empat sekarat, lima menjadi mayat! Dan kita harus siap menyongsong datangnya komunitas gerenasi yang hilang.
zainal muttaqien
Lampung Post
24 Agustus 1998
07:29