12 Oktober 2014

Nonton Akrobat Politik di Taman Kanak-kanak Senayan

Posted by
Menonton sidang anggota DPR saat menyampaikan pimpinan fraksi pada Kamis (2/10/14) dnihari, saya jadi teringat ucapan Gus Dur (alm) beberapa tahun silam, yang menilai suasana di Gedung Senayan seperti taman kanak-kanak.

Kegaduhan terjadi hanya beberapa jam setelah para --katanya-- wakil rakyat itu dilantik dan mengucapkan sumpah, dalam hajatan yang berbiaya Rp.16 miliar itu.

Beberapa anggota dewan bukan sekadar terus menginterupsi, tetapi bahkan berbondong-bondong beranjak dari kursi dan bergerombol di podium pimpinan sidang. Beberapa diantaranya nyerocos sambil menunjuk-tunjuk pimpinan sidang.

Akibatnya, sidang berlangsung a lot, dan waktu terbuang percuma karena harus beberapa kali diskors. Padahal yang menjadi penyebab molornya sidang bukan karena terjadi perdebatan perihal substansial untuk membela kepentingan rakyat yang mereka wakili, tetapi sekadar berebut kursi pimpinan lembaga yang kerap dianggap terhormat itu.

Tontonan yang disaksikan puluhan juta orang (bahkan mungkin lebih) karena disiarkan langsung oleh televisi itu, diantaranya TVOne, menyuguhkan betapa menyedihkan ketaatan beberapa anggota dewan terhadap aturan yang sebelumnya telah disepakati. Kondisi faktual tersebut bisa menjadi sinyal untuk kelangsungan dinamika politik lima tahun kedepan, yang kemungkinan kerap diwarnai kegaduhan akibat tarik menarik kepentingan.

Buat saya, akrobat para aktor politik di Gedung Senayan itu sungguh memalukan. Rasanya tidak pantas diberi predikat wakil rakyat, yang akan menerima total gaji lebih dari setengah miliar rupiah per tahun. Saya pun jadi ragu, para aktor politik yang terbelenggu sebagai kepanjangan partai, akan sungguh-sungguh membela kepetingan rakyat, paling tidak konsituen yang telah mengantar sang aktor politik duduk sebagai anggota DPR RI.

Setelah menonton akrobat politik saat penyampaian pimpinan fraksi itu, saya jadi sadar untuk tidak terlalu berharap agar mereka benar-benar mewujudkan kehendak rakyat. Sebab, boleh jadi banyak diantara mereka yang sudah lupa kepada rakyat yang telah mengantarnya menjadi anggota legislatif. Namun setidaknya, masih tersisa satu harapan agar paling tidak selama lima tahun kedepan tidak ada anggota DPR yang terjerat hukum, terutama kasus korupsi, seperti terjadi pada periode-periode sebelumnya. Meski saya ragu, harapan terakhr itu pun bisa terwujud.

Bukan putus asa atau pesimistis terhadap kinerja anggota dewan yang pada periode 2014-2019 ini terdiri 318 wajah baru dan sisanya, 242 orang merupakan 'pemain' lama, Bisa jadi para anggota dewan wajah baru itu maju dengan semangat idealisme benar-benar demi kepentingan rakyat. Namun saat melihat sidang di hari pertama, tampaknya kendali masih dikuasai para pemain lama yang karena jam terbang lebih piawai berakrobat politik.

Saya bahkan agak kuatir kalau dinamika politik di Indonesia lima tahun kedepan akan menyerupai suasana era Gus Dur menjadi Presiden, yang kerap diwarnai kegaduhan karena tarik menarik kepentingan. Bisa jadi pada periode ini para aktor politik lebih fokus menyongsong era pemilihan calon anggota legislatif dan calon presiden dalam satu paket pada Pemilu 2019.  (zamsaja)