17 Agustus 2009

Sekali Merdeka, Merdeka Sekaleeeeeeeee

Posted by
17 Agustus tiba, dimana-mana tampak bendera, ada yang berkibar di tiang,  dipajang di kaki lima, atau sekedar penghias kendaraan. Di berbagai pelosok digelar aneka lomba. Di jalanan juga banyak kelompok orang minta sumbangan dengan dalih untuk menyambut dan memeriahkan kemerdekaan.

Tak hanya itu kesibukan menyambut hari jadi republik bernama Indonesia ini. Para bupati dan walikota mengimbau warga untuk mengibarkan sang merah putih. Juga digelar rapat paripurna khusus di gedung wakil rakyat. Masih ada lagi kegiatan yang rutin dilakukan, yakni ziarah ke makam para pahlawan.

Begitulah kemerdekaan dimaknai. Seremoni dan hura-hura. Selebihnya paling diskusi atau seminar. Dalam hitungan pekan, semuanya kembali ke suasana semula. Aktivitas rutin biasa. Tak peduli apakah pemaknaan kemerdekaan membekas, atau menguap begitu saja seiring habisnya anggaran yang kalo diakumulasi bakal bisa jadi ribuan ton beras.

Setiap tahun tak pernah ada perubahan. Janji kemerdekaan sebagaimana telah ditekadkan dalam mukadimah undang-undang dasar, tetap saja hanya menjadi slogan.

Entah apa yang ada di benak para pemimpin negeri ketika mendengar kata merdeka. Betulkah sungguh-sungguh ingin memerdekakan rakyat? Saya ragu untung menjawab “ya”.

Setengah abad lebih republik ini telah diproklamasikan. Kenyataan malah makin jauh dari kemerdekaan sesungguhnya. Pengangguran, kemiskinan, kebodohan, dan korupsi masih menjadi persoalan nasional yang belum jelas kapan bisa diatasi. Di sisi lain, utang negara terus makin membengkak.

Namun para pemimpin tetap saja merasa telah berbuat banyak. Di layar televisi masih diumbar janji tentang pendidikan gratis, tapi bahkan terjadi seorang bocah bunuh diri akibat frustasi tak bisa sekolah gara-gara tak ada biaya.

Ada pula iklan layanan masyarakat yang menjanjikan swasembada pangan, namun ternyata masih ada balita yang menderita gizi buruk, bahkan sampai meninggal dunia.

Soal pengangguran lebih parah. Perguruan tinggi berlomba menjaring mahasiswa, tapi tak ada yang bertanggung jawab ketika para sarjana yang dihasilkan ternyata cuma luntang-lantung karena tak kebagian lapangan kerja.

Begitu pula kasus korupsi, tiap tahun terus bertambah. Bukannya makin banyak koruptor yang ditangkap dan dipenjarakan, tetapi pejabat yang dipercaya membabat para koruptor malah harus berurusan dengan hukum gara-gara soal perempuan berujung pembunuhan.

Kebodohan rakyat tak cuma gampang dikelabui ketika musim pemilu atau pilkada. Bahkan untuk sekedar beranjak dari pemakai kayu bakar, tungku, dan kompor minyak ke kompor gas, sampai-sampai harus diajari lewat televisi!!!

Jadi, apa sebenarnya makna kemerdekaan yang setiap tahun diperingati?

Belum lagi bisa menemukan jawab makna kemerdekaan, eh malah datang kabar lucu dari Gedung DPR Senayan. Saat berlangsung Sidang Paripurna pidato kenegaraan yang biasa dilakukan setiap tahun menyongsong peringatan hari kemerdekaan, Ketua DPR Agung Lakono sampai lupa memimpin sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sang pemimpin rapat langsung mengajak hadirin mengheningkan cipta.

Ketika alpa tersebut disadari, Ketua DPR enteng saja menjawab bahwa kesalahan itu karena kekeliruan protokoler. Weleh, weleeeeh.

Mungkin dari peristiwa “kecil” yang berdampak “besar” itu kita dapat mendapatkan jawab, bagaimana pemimpin bangsa yang selama ini getol mengatasnamakan rakyat itu memaknai kemerdekaan. Yakni kemerdekaan menyalahkan pihak lain ketika kita bersalah. Duh, merdeka sekaleeeeeeee…

(17 Agustus 2009 / zamsaja)

15 Agustus 2009

Cintai Nasib, Jangan Bersedih

Posted by
Friedrich Wilhelm Nietzsche menawarkan konsep “Amor Fati” untuk menjalani hidup apa adanya. Sedangkan Aidh al-Qarni memberikan resep “La Tahzan” untuk menghadapi segala macam problema kehidupan yang datang silih berganti. Bila kedua tips tersebut digabung maka menjadi sikap mencintai nasib (amor fati) tanpa bersedih (la tahzan).

Dengan mencintai nasib, tidak akan dirisaukan oleh masa lalu, dan tidak pula dicemaskan oleh masa depan. Tidak terbelenggu dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Mengurai masa lalu hanya membuang waktu, karena roda sejarah mustahil diputar-balik.

Hidup adalah hari ini. Dunia akan tampak indah jika dinikmati dengan senyuman, bukan dengan muram durja serta kesedihan yang berlarut-larut.

Mencintai nasib berarti pula mengimani qadha dan qadar. Maha Pencipta sudah menggariskan semua rute perjalanan hidup tiap manusia dengan segala lilku-likunya. Setiap episode kehidupan membekaskan pengalaman dalam memori. Rekamannya dapat dikenang dan diceritakan. Hanya dua pengalaman manusia yang tak akan pernah bisa dikenang dan diceritakan, yakni saat mengalami dilahirkan dan ketika mengalami kematian.

Kehidupan memang misterius. Dibutuhkan keyakinan kuat untuk mengarunginya. Berbagai jenis problema akan menghampiri untuk menguji kemampuan kita melewatinya. Semua masalah ada solusinya, tergantung kearifan dan keberanian kita untuk memilih cara penyelesaiannya.

Namun, sudah menjadi fitrah manusia terjebak dalam keraguan, atau sebaliknya gegabah memutuskan pilihan tindakan. Keraguan seringkali hanya menghasilkan kecemasan, kekuatiran, atau ketakutan berlebihan, yang akhirnya buntu membentur pertanyaan tak terjawab: “nanti bagaimana kalau…?” Dengan kata lain, waktu habis dipakai buat berandai-andai.

Sebaliknya tindakan gegabah tak memperhitungkan segala resiko yang mungkin dihadapi. Keputusannya hanya berbekal kenekadan. Berbagai kemungkinkan yang bakal dihadapi cukup diantisipasi dengan sikap masa bodoh: “… gimana nanti saja!” Kalau ternyata jalan yang ditempuh salah, maka yang tersisa hanya penyesalan.

Seni mengarungi hidup adalah kejelian untuk dapat menyelinap diantara dua pilihan itu. Tak ragu, tetapi juga tidak gegabah. Tak larut berandai-andai, namun tidak luput mengantisipasi penyesalan.

Hanya segelintir orang yang mampu dengan bijak menemukan jalan tengah diantara dua pilihan itu. Kebanyakan tak juga bertindak lantara terlalu lama mikir, sebagian lainnya menjadi pecundang karena gagal menemukan penawar dari kekeliruan langkahnya.

Hidup adalah perbuatan. Sejuta teori perihal cara menjalani hidup baru akan berarti apabila diaplikasikan. Pada era keterbukaan ilmu pengetahuan begitu banyak referensi yang menjanjikan pedoman cara menjalani hidup. Simak saja buku-buku chicken shoup atau self-helf seperti  “The Magic of Thinking Big” karya David J. Schwart, “How to Stop Worryng and Start Living” (Dale Carnegie) atau “Speech Can Change Your Life” yang ditulis oleh Dorothy Sarnoff. Tetapi buku-buku best seller tersebut tak ada gunanya sama sekali kalau isinya tak dipraktekkan.

Mengimani qadha dan qadar berarti pula mensyukuri yang dimiliki, dan bangga menjadi diri sendiri. Kita seringkali lupa bersyukur masih bisa bernafas normal tanpa harus dibantu tabung oksigen, masih bisa menyuap makanan tanpa harus diinfus, masih bisa berpergian tanpa dibantu tongkat atau kursi roda, dst, dst…

Kealfaan mensyukuri nikmati yang diberikan secara cuma-cuma oleh Maha Pemberi itu lebih sering karena dilupakan oleh rutinitas kesibukan memburu fatamorgana duniawi. Kita terlena oleh kenikmatan fana sehingga kerap kurang ajar dengan hanya menempatkan Maha Pencipta semacam sinterklas yang kita mintai rezeki, dijadikan tumpahan curhat manakala dilanda gundah gulana, atau sekedar tempat minta pertolongan ketika ditimpa malapetaka.

(15 Agjustus, 2009/zamsaja)