5 Juni 2008

Tragedi Monas

Posted by
Memalukan. Menyedihkan. Memuakkan!

Begitulah simpul ringkas menonton tragedi Monas yang terjadi awal Juni 2008. Ironis, karena tontonan memalukan itu terjadi justru saat bangsa ini sedang memperingati Pancasila. Namun, salah satu sila dasar negara itu,m “Persatuan Indonesia”, malah dimaknai dengan bentrokan fisik sampai berdarah-darah.

Terlepas apakah peristiwa itu terjadi spontan atau merupakan hasil rekayasa, tetap saja memalukan. Tak perlu pula masalahnya digebyah-uyah dengan terminologi keislaman. Sebab, Islam sesungguhnya lahir untuk menjadi rahmatan lil alamin. Bukan sebaliknya malah membuat orang senantiasa waswas atau cemas karena masih terjadi aksi anarkis berlatar agama.

Kita mestinya malu pada diri sendiri, karena selalu saja merasa lebih benar, dan karena itu menganggap sah untuk memaksakan kehendak. Tak peduli dengan cara-cara primitif, yang tak lebih terhormat ketimbang aksi tawuran yang galib dipertontonkan remaja atau pemuda ingusan.

Kita juga seharusnya sedih, karena ternyata masih saja ada orang-orang yang semestinya santun kepada sesama, malah hanya bisa menyelesaikan masalah dengan cara gontok-gontokan. Bukan bermusyawarah dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Yang dihasilkan dengan cara premanisme seperti itu malah muncul masalah baru, yang membuat rakyat makin bingung.

Terus terang saja, saya , dan mungkin banyak warga negeri ini, sudah tak bisa percaya lagi pada omongan orang-orang yang semestinya jadi panutan. Tak ada lagi orang di negeri ini yang bisa menentramkan rakyat, yang sudah didera kesusahan karena untuk bisa hidup normal saja nyaris tak mampu. Yang terjadi, bukannya orang-orang yang diberi kepercayaan membela rakyat malah cuma bisa berisik adu argumen, wacana ini-itu, dan malah mempertontonkan aksi barbar yang sama sekali tidak lucu!

Persetan kalau bentrokan Monas itu merupakan upaya pengalihan perhatian dari ketidakmampuan kita meyakinkan rakyat, setelah menempuh berbagai kebijakan yang kian menyengsarakan. Kalau memang sudah merasa tak mampu lagi mengantarkan negeri ini memasuki gerbang kesejahteraan sebagaimana diamanatkan konstitusi, ya sebaiknya segera mundur saja dari jabatan yang selama ini dipercayakan rakyat kepada para petinggi negeri ini.

Berbagai kejadian di negeri ini sejak reformasi bergulir, tak lebih baik dari era sebelumnya. Kalau saja rakyat masih diperkenankan memberi komentar spontan dan apa adanya, nisacaya hanya bisa meluncurkan pendapat singkat: kutu kupret! (zamsaja-5/6/2008)